3 Desa di Cianjur Diterjang Hujan Es, Bagaimana Bisa Terjadi?

Angin kencang disertai hujan es menerjang sejumlah wilayah di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. MI/Benny Bastindy. Angin kencang disertai hujan es menerjang sejumlah wilayah di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. MI/Benny Bastindy.

Dadali: Fenomena hujan es disertai angin kencang melanda wilayah Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin, 18 Januari 2021 pukul 16.00 WIB. Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

“Informasi sementara yang kami terima, ada tiga desa yang aksesnya terisolasi karena tertutup pohon tumbang dan longsoran,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Mochammad Irfan Sofyan, Senin, 18 Januari 2021.

Lantas, bagaimana fenomena hujan es bisa terjadi?

Dilansir dari Bmkg.go.id, hujan es merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan bukanlah suatu hal yang asing. Hujan es disertai angin kencang dengan durasi yang singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi atau pancaroba musim, baik dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya.

Salah satu penyebab terjadinya hujan es adalah awan cumulonimbus (Cb). Pasa masa pancaroba, terjadi hujan dengan perbedaan suhu besar disertai angin kencang yang meningkatkan potensi terbentuknya awan Cb. 

Awan Cb mengandung lebih banyak air dalam bentuk padat daripada cair. Atas dasar tersebut, hujan yang turun bisa dalam bentuk padat.

Berikut indikasi terjadinya hujan lebat/es disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat
- Satu hari sebelumnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah.
- Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%)
- Mulai pukul 10.00 terlihat tumbuh awan cumulus (awan putih berlapis - lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
- Tahap berikutnya, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan Cb (cumulonimbus).
- Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat.
- Terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri
- Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras secara tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis, maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.
- Jika satu sampai tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.



(SYI)

Berita Terkait